KESUSASTRAAN

Menurut bahasa yang digunakan dalam menciptakan sastra, kesusastraan dibedakan menjadi 2 yaitu :

1.      Sastra Lisan (Oral)

Sastra Lisan adalah karangan yang diwujudkan dalam bahasa lisan, sastra lisan berkembang dari mulut kemulut. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Macam kesusastraan lisan antara lain: Cerita-cerita yang dibawakan olh tukang cerita (pawing cerita), dalang dan tukang kentrung. Namun di Eropa cerita-cerita semacam itu dibwakan oleh Trubadour dan Maintril.

2.      Sastra Tertulis

Sastra tertulis adalah karangan yang diwujudkan dalam bahasa tulisan.

Kesusastraan inilah yang disebut kesusastraan itu stabil.

Kesusastraan tertulis ada 2, yakni :

a.    Kesusastraan Umum

Adalah karangan dalam bahasa tulisan yang tidak megandung segi-segi keindahan. Kesusastraan umum meliputi : Bku Ilmu pengetahuan, Selebaran, Buku Udang-Undang, dsb.

b.    Kesusastraan Khusus

Adalah karangan yag mengutamakan segi keindahan bahsanya disamping kebaikan isinya. Kesusastraan khusus inilah yang disebut Seni Sastra.

      C.   FUNGSI DAN NILAI-NILAI KARYA SASTRA

Secaara umum, fungsi sastra dapat digolongkandalam 5 golongan besar, yakni :

a.    Fungsi Rekreatif  : Memberika rasa senang, gembira, serta menghibur para pembaca dan pendengar.

b.  Fungsi Deduktif    : Mendidik para pembaca karena nilai-nilai edukatif atau pendidik kebenaran dan kebaikan ada didalamnya.

c.    Fungsi Estetis          : Memberikan nilai-nilai keindahan.

d.    Fungsi moralitas     : Mengandung nilai moral yang tinggi bagi para pembaca sehingga pembaca data mengetahui moral baik dan moral buruk.

e.    Fungsi Religiusitas (Keagamaan) : Mengandung ajaran agama yang dapat diadikan teladan bagi para pembacanya.

Secara etimologi (menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut. Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja menjangkau pengertian-pengertian lahiriah tapi terutama adalah pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah. Misalnya, bukankah pada wajah yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal yang indah.

Sebuah cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya. Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu.

disimpulkan maka “kesusastraan” adalah merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).